Sabtu, 26 Desember 2015

Contoh Nabi Ibrahim Dalam Mendidik Anak

Mencontoh Nabi Ibrahim Dalam Mendidik Anak Shaleh
(Mendidikan Anak yang Shaleh)


Sebuah masyarakat tidak akan bisa menjadi bahagia dan sejahtera jika masyarakat itu gagal dalam membangun keluarga-keluarga kecil. Apabila kita berbicara tentang keluarga unsur terpenting dalam keluarga adalah Anak karena sebagai generasi penerus. Pada zaman modren ini sangat menghawatirkan karena sikap negatif yang secara umum ditonjolkan seorang anak terutama pada masa remaja, penyebab dari itu adalah kurangnya kepedulian orang tua terhadap anak dalam pendidikan  tentang agama.
Marilah kita berhenti sejenak, membuka hati untuk belajar dari ayahanda Nabiyullah Ibrahim ‘alaihissalam. Belajar tentang betapa pentingnya nilai keluarga kita, tentang betapa pentingnya nilai seorang anak bagi orangtua di dunia dan akhirat.
Berikut bagaimana Nabi Ibrahim mendidik anak menjadi anak shaleh yaitu Nabi Isma’il:

1.      Menjadi Orang Tua Shaleh
Dari kisah Nabiyullah  Ibrahim ‘alaihissalam adalah bahwa untuk mendapatkan anak yang shaleh, maka orangtua terlebih dahulu berusaha menjadi orang yang shaleh. Karena siap menjadi orangtua artinya siap menjadi teladan untuk keluarga, bukan sekedar memberi makan dan mencukupi kebutuhan anak, Allah berfirman:
 “Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia…” Q.S. Al-Mumtahanah : 4
Mungkin banyak di antara kita yang sekedar “mau” memiliki anak yang shaleh. Tetapi tidak berusaha menjadi orangtua yang shaleh.
Pertanyaannya adalah: Apakah kita selaku orangtua sudah berusaha untuk belajar dan berusaha menjadi orangtua yang shaleh? Jawaban itu ada pada diri kita masing-masing.
2.      Mendo’akan Anak

Selaku orangtua kita harus selalu berdo’a kepada Allah agar memiliki anak yang shaleh.  Seperti doa-doa Nabiyullah Ibrahim ‘alaihissalam, Allah Swt berfirman:
            “Tuhanku, karuniakanlah untukku (seorang anak) yang termasuk orang-orang shaleh.”
(Q.S. As-Shaffat:100)  
“Ya Tuhanku, jadikanlah aku orang yang menegakkan shalat, juga dari keturunanku. Ya Tuhan kami, kabulkanlah doaku.” (Q.S. Ibrahim: 40)
Oleh karena itu marilah kita belajar dari beliau dan selalu berdoa untuk anak-anak kita khususnya pada waktu sholat dan waktu-waktu dikabulkannya doa.

3.      Berbuat Baiklah Kepada Orang Tua Kita, Niscaya Anak-Anak Kita Akan Berbuat Baik Kepada Kita

Coba kita lihat kembali akhlak nabi ibrahim dan kelembutannya, beliau mendoakan ayahnya yang musyrik. Allah Swt berfirman:
 “Wahai bapakku, sesungguhnya telah datang kepadaku sebahagian ilmu pengetahuan yang tidak datang kepadamu, maka ikutilah aku, niscaya aku akan menunjukkan kepadamu jalan yang lurus. Wahai bapakku, janganlah kamu menyembah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu durhaka kepada Tuhan Yang Maha Pemurah. Wahai bapakku, sesungguhnya aku khawatir bahwa kamu akan ditimpa azab dari Tuhan Yang Maha Pemurah, maka kamu menjadi kawan bagi syaitan”. (QS. Maryam:43-45)
Meskipun ayahnya bersikap keras dan mengancam akan membunuhnya
“Jika kamu tidak berhenti, maka niscaya kamu akan kurajam.” (QS. Maryam:46)
Akan tetapi pada saat itu nabi ibrahim sangat santun dan berbakti kepada ayahnya
Berkata Ibrahim: “Semoga keselamatan dilimpahkan kepadamu, aku akan meminta ampun bagimu kepada Tuhanku.” (QS. Maryam:47)
Karena kebaikan dan kesantunan kepada orang tuanya itulah sehingga Nabiyullah Ibarahim layak mendapatkan anak yang shaleh yaitu nabiyullah isma’il.
“Maka Kami beri dia kabar gembira dengan seorang anak yang amat sabar.”                              (QS. As-Shaffat:101)

4.      Ajaklah Anak  Kita Berdialog

Perhatikanlah sebuah dialog yang luar biasa ini, yaitu dialog tentang salah satu perintah Allah yang berkaitan dengan perintah yang sulit pada dirinya, akan tetapi Nabiyullah Ibrahim ‘alaihissalam menjalaninya dengan sebuah dialog yang bijaksana
 Ibrahim berkata: “Hai anakku Sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!.....” Q.S. As-Shafaat :102
Sungguh Nabi Ibrahim telah menyertakan anaknya dalam pengambilan sebuah keputusan tentang perintah Allah yang sulit, Beliau meminta pendapat tanpa memaksa dan bermusyawarah bagaimana baiknya dalam melaksanakan perintah Allah, oleh karena itu kita selaku orangtua janganlah sekali-sekali memaksakan kehendak kepada anak-anak kita dalam  suatu urusan, sepanjang tidak menyimpang dari norma-norma agama, namun kita tetap memberikan bimbingan yang sebaik-baiknya untuk mengarahkan kemana arah yang baik.
Ketika nabi ibrahim mengajak dialog dan menyertakan anak tersebut dalam pengambilan keputusan penting dalam melaksanakan perintah Allah, akhirnya sang anak yaitu Nabi Isma’il pun kemudian menjawab :
Ia menjawab (Ismail): “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu, insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”.( QS. As-Shaffat:102)
            Dalam ayat ini Nabi isam’il merupakan contoh yang baik bagi anak-anak. Selaku anak harus tetap tunduk terhadap orangtua sekalipun berat, sebagaimana yang dialami nabi isma’il, sekalipun beliau akan disembelih, tetap tunduk dan bersedia, karena mengharap keridhaan Allah semata.

5.      Pembinaan Dan Kontrol Yang Berkelanjutan Terhadap Anak-Anak

Mekipun pada saat itu Nabi Ibrahim tinggal di Palestina dan anaknya Nabi Ismail tinggal di Makkah, akan tetapi hal itu tidak menjadikan Nabi Ibrahim kemudian lupa dan tidak lagi memantau keadaan anaknya. Nabi Ibrahim masih mengunjungi anaknya dan memantau keadaan anaknya tersebut, termasuk lingkungan yang ditempati Nabi Ismail.

6.      Sertakan Anak Kita Dalam Melaksanakan Kebaikan

Hal ini terbukti ketika Nabi Ibrahim berkata kepada anaknya Nabi Isma’il : sesungguhnya Allah memerintahkanku agar membangun rumah disini, Apakah kamu mau membantuku? Isma’il pun menjawab : Akan aku kerjakan insya Allah.
Anak akan tumbuh sebagaimana kebiasaan kedua orang tuanya dan tarbiyah keluarganya, oleh karena itu biasakanlah meminta bantuan kepada anak kita, ketika mengerjakan kebaikan dan sertakan dia bersama kita ketika melaksanakan amal-amal ketaatan seperti shalat dan pintu-pintu kebaikan lainnya.

7.      Tanamkanlah Keikhlasan Dihati Anak Kita

“Dan (ingatlah), ketika Ibrahim meninggikan (membina) dasar-dasar Baitullah bersama Ismail (seraya berdo`a): “Ya Tuhan kami terimalah daripada kami (amalan kami), sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”.( QS. Al-Baqarah:12)7
Nabi Ibrahim telah mengajarkan kepada kita ketika melaksanakan ketaatan agar kita menisbatkan segala keutamaan hanya kepada Allah saja dan melepaskan daya serta kekuatan kita lalu berdoa kepada Allah agar menerima amal kita. Dengan begitu kita telah menanamkan nilai-nilai keikhlasan pada hati dan jiwa anak-anak kita dan menjauhkan mereka dari sifat sombong dan ujub.
Apabila  kita selaku orangtua bisa mempraktekkan cara mendidik anak-anak kita, seperti cara mendidik nabiyullah Ibrahim A.S. kepada putranya nabiyullah Isma’il, Maka kita akan memperoleh keluarga yang bahagia yang diridhai Allah dan mempunyai anak yang Shaleh yang menjadi tabungan kita diakhirat kelak. Amin.


Rabu, 23 Desember 2015

Sikap Transisi Anak Menuju Remaja

Sikap Anak Pada Masa Transisi Menuju Remaja


Perubahan-perubahan sikap anak pada masa transisi menuju remaja yang menonjol dalam diri seorang anak mengundang banyak penafsiran para ahli, diantaranya yaitu Spranger dan Conger. Spranger adalah teori kepribadian yang berorientasikan pada sikap individu terhadap nilai-nilai yang menafsirkan masa remaja yang Fundamental yaitu: kesadaran akan aku, berangsur-angsur menjadi jelasnya tujuan hidup, pertumbuhan kearah kedalam berbagai lapangan hidup. Sedangkan Conger adalah menekamkan pada pendekatan interdispliner dalam pemahamannya terhadap kehidupan remaja masa kini yang menafsirkan masa remaja itu sebagai masa yang amat kritis yang mungkin dapat merupakan “the best of time and the worst of time”. Kalau individu mampu mengatasi berbagai tuntunan yang dihadapinya secara integrative, ia akan menenemukan identitasnya yang akan dibawanya menjelang masa dewasanya. Sebaliknya, kalau gagal, ia akan berada pada krisis identitas (identity crisis) yang berkepanjangan.[1]
Gambaran umum mengenai profil prilaku dan pribadi remaja akan sangat penting diketahui sebelum diadakan pendidikdn kepribadian bagi remaja. Gambaran umum tersebut merupakan transisi mulai dari awal sampai berakhirnya masa remaja, yaitu:
1.      Fisik dan Prilaku Psikomotorik
a.       Remaja Awal
Laju perkembangan sangat cepat, proporsi tubuh sering kurang seimbang, munculnya cirri-ciri sekunder, gerak-gerik tampak canggung dan kurang terkoordinasi.
b.      Remaja Akhir
Laju perkembangan mulai menurun, proporsi tubuh lebih seimbang, siap berfungsinya organ-organ reproduksi, gerak-gerik mulai mantap.
2.      Prilaku Sosial, Moralitas dan Religius
a.       Remaja Awal
Dengan sikapnya dan cara berfikirnya yang kritis mulai menguji kaidah-kaidah dan nilai etis dengan kenyataan dalam prilaku sehari-hari oleh para pendukungnya (orang dewasa), meniru idolanya, penghayatan kehidupan keagamaan dilakukan atas dasar paksaan dari luar.
b.      Remaja Akhir
Sudah berangsur dapat menentukan dan menilai tindakannya sendiri atas norma atau sistem yang dipilihnya, eksistensi Tuhan mulai dipahamkan dan dihayati menurut system agamanya, penghayatan keagamaan mulai dilakukan atas dasar kesadaran dan pertimbangan hati nurani, sudah bisa memisahkan antara sistem nilai, kebergantungan kepada kelompok sebaya berangsur fleksibel.
3.      Prilaku Kongnitif
a.       Remaja Awal
Pengamatan dan tanggapan masih bersifat realism kritis, proses berfikirnya sudah mampu mengoperasikan kaidah-kaidah logika formal dan dalam trem yang bersifat abstrak, kecakapn dasr intelektual umumnya menjalani laju perkembangan yang terpesat.
b.      Remaja Akhir
Lebih bersifat rasionalisme idealis, kemampuan membuat generalisasi yang lebih bersifat konklusif dan komprehensif, tercapainya titik pusat kedewasaan.[2]

         Berdasarkan gambaran umum mengenai profil prilaku dan pribadi remaja tersebut, dapat dilihat bahwa remaja merupakan masa transisi menuju kematangan individu, lajunya proses perkembangan prilaku dan pribadi itu dipengaruhi oleh dua faktor dominan, yaitu: faktor bawaan (heredity) dan faktor lingkungan (environment) termasuk latiha dan belajar (training and learning). Kedua faktor tersebut senantiasa bervariasi yang mungkin dapat menguntungkan, menghambat, atau membatasi lajunya proses perkembangan tersebut.[3]
            Oleh karena garis lintas perpindahan dari awal sampai akir masa remaja itu tidaklah selalu berjalan mulus, tetapi mungkin berliku-liku bergantung atas variasi faktor dominan tersebut. Maka para remaja harus memahami dirinya, masa remaja adalah masa terpenting karena masa ini adalah masa yang menentukan hari depanya, kehidupannya, kehidupan keluarganya, bahkan menentukan nasib bangsa dan negaranya.[4]




[1] Abin Syamsuddin Makmun, Pisikologi Kependidikan (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, Cet. V, 2002), 132.
[2] Ibid, hlm. 133-135.
[3] Jhon P. Miller, Cerdas di Kelas Kepribadian, disadur oleh Abdul Munir Mulkhan (Yokyakarta: Kreasi Wacana, 2002), hlm. 10.
[4] Agus Sujanto, Psikologi Perkembangan (Jakarta: Aksara Baru, 1984), hlm. 175.

Senin, 21 Desember 2015

Pengertian, Dasar dan Tujuan Akhlak dalam Persepektif Al-Ghazali

Pengertian, Dasar dan Tujuan Akhlak dalam Persepektif Al-Ghazali


A. Pengertian Akhlak
Menurut al-Ghazali “akhlak” adalah suatu kemantapan (jiwa) yang menghasilkan perbuatan atau pengalaman dengan mudah tanpa perlu pemikiran dan pertimbangan, jika kemantapan itu sedemikian sehingga menghasilkan amal-amal yang baik, yaitu amal yang baik menurut akal dan syari’ah, maka disebut akhlak yang baik, jika amal-amal yang muncul dari keadaan (kemantapan) itu amal yang tercela, maka dinamakan amal yang buruk.[1]
Dari definisi tersebut, dapat diketahui bahwa hakikat akhlak menurut al-Ghazali mencakup dua syarat:
1.      Perbuatan itu harus konsisten (istiqamah)
Maksudnya perbuatan itu dilakukan berulang kali dalam bentuk yang sama sehingga dapat menjadi kebiasaan. Misalnya seseorang yang memberikan sumbangan harta sekali-sekali karena dorongan keinginan sekonyong-konyong saja, maka orang itu tidak dapat dikatakan sebagai pemurah selama sifat itu belum tetap dan meresap dalam jiwa.
2.      Perbuatan itu tumbuh dari hati
Maksudnya perbuatan itu harus tumbuh dengan mudah sebagi wujud refleksi dari jiwanya tanpa pertimbangan dan pemikiran, yakni bukan karena adanya tekanan-tekanan, paksaan-paksaan dari orang lain, atau pengaruh-pengaruh dan bujukan indah dan sebagainya. Misalnya orang yang memberikan harta benda karena tekanan moral dan pertimbangan. Maka belum juga termasuk kelompok orang yang pemurah.[2]  

B.  Dasar Akhlak
Tidak dapat dipungkiri, bahwa al-Quran adalah sumber hukum Islam, baik dalam aqidah, ibadah maupun akhlak. Mengenai akhlak, secara implicit dan eksplisit al-Quran telah menyebutkan beberapa kali mengenai perbuatan baik dan buruk uang merupakan objek kajian akahlak. Sedangkan dasar pendidikan akhlak.
Allah Swt berfirman:
“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu..”. (Q.S. Al-Ahzab:21)
      Ayat tersebut menunjukan, bahwa Rasulallah Saw sebagai suri teladan yang baik dalam segala lapangan kehidupan termasuk pendidikan akhlak. Oleh karena itu perkataan dan perbuatan Beliau harus dijadiakn panutan. Dan Allah Swt telah memuji Beliau dalam firman-Nya
“Dan Sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung”. (Q.S. Al-Qalam: 4)
      Dalam konteks ini, manusia telah diberi Allah Swt potensi yang baik dan potensi yang buruk . potensi-potensi ini perlu mendapatkan bimbingan menuju  ke arah yang mulia. Disinilah pentingnya pendidikan akhlak.   
C. Tujuan Akhlak
Dalam segala usaha yang dilakukan secara sadar oleh manusia, pasti tidak lepas dari tujuan. Demikan pula dengan halnya akhlak.
Dan tujuan akhlak menurut al-Ghazali adalah diarahkan pada pembentukan kebagusan akhlak.dan kebagusan akhlak menurut al-Ghazali adalah iman. Dan keburukan akhlak itu adalah nifaq (sifat oaring munafiq).[3] Pendapat al-ghazali tesebut, ia sandarkan pada firman Allah Swt dalam surat al-Mukminun ayat 1-10.
Artinya:
1.  Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman,
2.  (yaitu) orang-orang yang khusyu' dalam sembahyangnya,
3. Dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna,
4. Dan orang-orang yang menunaikan zakat,
5. Dan orang-orang yang menjaga kemaluannya,
6. Kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak yang mereka miliki[4]. Maka Sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada terceIa.
7. Barangsiapa mencari yang di balik itu, Maka mereka Itulah orang-orang yang melampaui batas.
8.   Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat (yang dipikulnya) dan janjinya.
9.   Dan orang-orang yang memelihara sembahyangnya.
10. Mereka Itulah orang-orang yang akan mewarisi. (Q.S. Al-mukminun: 1-10)
           
            Disamping itu, dikatakan pula bahwa diantara tujuan daripada pendidikan akhlak dapat dilihat pada hasil usaha perbaikan akhlak yaitu untuk membarsihkan qalbu dari kotoran-kotoran hawa nafsu dan amarah, sehimgga hati menjadisuci bersih, bagaikan cermin yang dapat menerima nur cahaya Tuhan.[5]
            Berdasarkan keterangan-keterangan al-Ghazali diatas, tujuan pendidikan akhlak dapat dapat dibagi menjadi dua, yaitu:

1.      Tujuan Tertinggi
Tujuan tertinggi adalah kembali pada kedudukan manusia di dunia sebagai hamba Allah, yaitu agar taat (beriman0 kepada Allah.
Allah berfirman:
 “Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku” (Q.S Adz-Dzariat: 56)

2.   Tujuan Perantara
Maksudnya adalah tujuan yang dicapai untuk tujuan yang lebih tinggi. Dalam hal ini berupa kebiasaan yang baik dan menjauhkan dar perbuatan yang tercela. Sehingga dapat mencapai derajat muttaqin. Seperti disebutkan dalm surat al-Mukminun 1-10 tentang tanda-tanda orang yang beriman, diantaranya adalah orang yang khusyu’ shalatnya, membayar zakat, dan sebagainya. Hal ini sesuaidenagn pendapat Barmawie Umary yang mengatakan tujuan dari pendidikan akhlak adalah “ supaya dapat terbiasa melakukan yang baik, indah, terpuji, serta menghindari yang buruk, jelek, hina, tercela.[6]



[1] Al-Ghazali, Ihya Ulumuddin, (Mesir: Dar Ihya al-Kutub al-Arab, juz. III, t.th), hlm. 52.
[2] Zainuddin dkk, Seluk Beluk Pendidikan dari Al-Ghazali (Jakarta: Bumi Aksara, 1991), hlm. 102.
[3] Al-Ghazali, Ihya Al-Ghazli, terj. Ismail Yakub (Jakarta: C.V Faizin, Jilid. III, 1986), hlm. 183.
[4] Maksudnya: budak-budak belian yang didapat dalam peperangan dengan orang kafir, bukan budak belian yang didapat di luar peperangan. dalam peperangan dengan orang-orang kafir itu, wanita-wanita yang ditawan biasanya dibagi-bagikan kepada kaum muslimin yang ikut dalam peperangan itu, dan kebiasan ini bukanlah suatu yang diwajibkan. imam boleh melarang kebiasaan ini. Maksudnya: budak-budak yang dimiliki yang suaminya tidak ikut tertawan bersama-samanya.
[5] Dr. Mustafa Zahri, Kunci Memahami Ilmu Tasawuf (dikutip dari al-Ghazali, Kimiyaus Sa’adah), (Surabaya: Bina Ilmu, 1994), hlm. 862.
[6] Drs. Barmawie Umary, Materia Akhlak (Solo: Ramadhani, 1993), hlm. 2.

Mendidik Anak Bayi Menjadi Pintar


 Mendidik Anak Bayi Menjadi Pintar


Secara umum bayi menjadi pintar itu mempunyai dua faktor:
1.      faktor genetika
yaitu faktor keturunan dari kedua orang tuanya, apabila orang tuanya adalah orang yang mempunyai kecerdasan maka anak akan cendung menjadi pintar, seperti pepatah mengatakan buah tak jatuh dari pohonya.
2.       faktor di luar genetika.
Yaitu faktor yang bukan berasal dari keturunan, misalnya suatu kebiasaan orang tua yang mengajarkan kepada anak untuk melakukan hal-hal yang positif, seperti membaca buka ataupun lainnya.

Tentu saja, setiap orangtua berharap anaknya menjadi pintar. Namun, selaku orang tua juga mempunyai tugas untuk memelihara dan memanfaatkan potensi yang dimiliki anak-anak kita sejak lahir.
Namun, orang tua dalam pekerjaannya sering terlalu sibuk, sehingga lelah yang menyebabkan malas untuk meluangkan waktu untuk anak-anaknya. Lebih-lebih perkembangan yang diperlukan untuk fase awal anak (bayi). Akibatnya, anak-anak sekarang harus menghabiskan banyak waktu disekolah dibandingkan. Dalam perkembangan zaman modern ini  anak-anak menggunakan lebih sedikit imajinasi dan lebih banyak teknologi, yang telah terbukti dalam studi membuat orang kurang cerdas daripada mereka yang membaca buku.
Penyebab penghambat perkembangan lainnya adalah suasana rumah yang tidak mendukung seperti otang tua yang sering bertengkar, kurang kasih sayang, orang-orang yang tinggal di rumah yang emosional dan memiliki lingkungan keluarga yang tidak diinginkan. Suasana seperti itulah yang menjengkelkan bagi seorang anak, sehingga mereka kurang bersemangat belajar.
Dalam mengembangkan pembelajaran pada fase awal (bayi), dibutuhkan motivasi atau dorongan dalam perkembangannya. Berikut: ada delapan cara untuk mendorong pengembangan pembelajaran fase awal (bayi) :
1.      Mengajak Bayi Keluar
Saat Anda membawa bayi anda untuk melihat-lihat lingkungan di luar rumah, seperti melihat bunga, burung dan mobil dan mengucapkan kata-kata dari benda-benda tersebut maka bayi anda akan belajar hal-hal ini, serta menjadi lebih waspada dan sadar akan lingkungannya.
2.      Membawa Bayi Saat Pergi
Dia bisa bertemu orang-orang, melihat dunia dan menonton orang lain bukan hanya menatap ruangan sendiri setiap hari. Pengalaman ini bisa sangat merangsang mental baginya dan orang-orang akan membantu dia mengembangkan sosialnya. Lakukan hal-hal dengan bayi yang biasanya Anda lakukan. Biarkan dia melihat Anda menyikat gigi, rambut dan berpakaian. Meskipun butuh waktu lebih lama bagi Anda untuk melakukan tugas-tugas sederhana, bayi akan belajar dan menonton semua yang Anda lakukan. Hal ini membuat mengajarinya lebih mudah dan lebih cepat.
3.      Hindarikan Menonton TV
Beberapa orang tua membiarkan bayi mereka di depan TV karena mereka terlalu lelah atau malas untuk berinteraksi dengan mereka. Jika bayi Anda menonton TV sebaiknya orangtua menemani sehingga Anda dapat memandu dan berinteraksi dengan bayi Anda hal ini akan membantu minat bayi dalam belajar.
4.      Mendengarkan Musikhttps://www.assoc-amazon.com/e/ir?t=blidta-20&l=ur2&o=1
bernyanyi dan menari dengan bayi. Bayi sangat senang dengan music atau bunyi-bunyian, tempo upbeat dan gaya energik membuat suasana hati bayi Anda menjadi senang, serta merangsang pikirannya.
5.      Biarkan Orang Lain Menggendong Bayi Kita.
Selama orang tersebut baik, melakukan hal ini akan membantu bayi Anda belajar tentang individualitas. Bayi tidak memiliki prasangka, penilaian atau kekhawatiran mengenai apakah seseorang gemuk atau kurus, baik atau tidak. Biarkan orang memegang bayi Anda dan dia akan belajar tentang karakteristik manusia.
6.      Tetap bahagia, walaupun Anda lagi ada masalah
Karena bayi bias menangkap energi Anda. Jika Anda berada dalam suasana hati yang buruk, sedih, kesal atau marah, bayi juga akan menjadi tertekan. Selalu tersenyum dan membuat bayi Anda merasa baik. Suasana bahagia membuat bayi lebih cerdas.
7.      Merangsang Dengan Mainanhttps://www.assoc-amazon.com/e/ir?t=blidta-20&l=ur2&o=1
Tentu saja setiap bayi mencintai mainan. Pilihlah mainan yang merangsang pikiran mereka. Anda juga bisa bermain dengan bayi Anda dengan membuat terowongan untuk merangkak dan keluar dari selimut, bermain cilukba, bermain walker dan ide-ide lain yang Anda buat sendiri akan merangsang bayi Anda.
8.      Memperkenalkan Bahasa
Anda mungkin berpikir itu akan membingungkan bayi Anda, padahal sebenarnya ini adalah waktu terbaik untuk membuat anak Anda mengenal banyak bahasa.
Tidak dipungkiri, bahawa menjadikan anak yang cerdas itu, membutuhkan kerja keras dan juga harus meluangkan waktu untuk anak-anak. Dalam pengembangan anak maka orang tualah yang menjadi titik temunya. Apakaah Anda akan memulainya atau tidak ? jangan hanya ingin mempunyai anak menjadi pintar tanpa campur tangan dari orang tua.

Semoga Bermanfaat…!!!

Rabu, 16 Desember 2015

Metode Pendidikan Akhlak Dalam Persepektif Islam

Metode Pendidikan Akhlak Dalam Persepektif Islam

1.      Metode Keteladanan ( Uswatun Khasanah )
Bahwasanya anak-anak memiliki kecenderungan atau sifat peniru yang sangat besar, maka metode uswatun khasanah “contoh teladan” dari orang-orang yang terdekat adalah sangat tepat. Dalam hal ini orang yang paling dekat kepada anak adalah orang tuanya, karena itu contoh teladan orang tuanya sangat berpengaruh pada pembentukan mental dan akhlak anak-anak.
Metode keteladanan ini merupakan metode samawi yang diajarkan Allah swt kepada hamba-hambanya, yaitu dengan diutusnya seorang Rasul untuk menyanpaikan risalah samawi kepada setiap umat. Rasul yang diutus tersebut adalah seseorang yang mempunyai sifat-sifat luhur, baik spiritual, moral, maupun intelektual. Sehingga umat manusia meneladaninya, belajar darinya, memenuhi panggilannya, menggunakan metodenya, dalam hal kemuliaan, keutamaan dan akhlak yang terpuji.[1]
Dalam metode peneladanan ini, ada dua macam cara, yaitu; sengaja dan tidak sengaja. Keteladanan yang tidak sengaja adalah keteladanan dalam keilmuan, kepemimpinan, sifat keikhlasan. Sedangkan keteladanan yang disengaja adalah memberikan contoh membaca yang baik, melakukan shalat yang benar.[2]

2.      Metode Nasehat ( Mauidhah Khasanah )
Diantara metode dan cara-cara mendidik yang efektif didalam upaya membentuk keimanan anak, mempersiapkannya secara moral, pisikis dan secara social adalah mendidiknya dengan memberi nasehat.[3]
Yang dimaksud metode nasehat adalah member peringatan untuk menghindari suatu perbuatan yang dilarang dan memerintahkan untuk mengerjakan perbuatan yang baik dengan berbicara lemah lembut, sehingga menyentuh hati anak yang dinasehati. “ maka suatu hal yang pasti jika pendidik member nasehat dengan jiwa yang ikhlas, suci, dan dengan hati yang terbuka serta akal yang bijak, maka nasehat itu akan lebih cepat terpengaruh tanpa bimbang. Bahkan dengan cepat tunduk kepada kebenaran dan menerima hidayah Allah yang diturunkan”.[4]
Allah berfirman:
“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah[5] dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik”.(Q.S. An-Hahl:125)

3.      Metode Pembiasaan
Sejak kecil anak harus dibiasakan untuk melakukan kegiata-kegiatan yang baik, dilatih untuk bertingkah laku yang baik, diajari sopan santun dan sebagainya.
Pembiasaan adalah suatu peran penting dalam membentuk pribadi anak, banyak contoh pola kehidupan yang terjadi dalam keluarga menjadi dasar-dasar pembentukan pola kehidupan anak, dan tujuan dari pembiasaan itu sendiri adalah peranan kecakapan-kecakapan berbuat dan menyampaikan sesuatu, agar cara-cara tepat dapat dikuasai.[6]
Maka untuk itu orang tua atau si pendidik (guru), haruslah mengajarkan pembiasaan dengan prinsip-prinsip kebaikan, harapannya nanti menjadi pelajaran bagi anak, karena apabila anak membiasakan sesuatu yang baik, maka anak akan terbiasa.





[1] Abdullah Nashih Ulwan, Pedoman Pendidikan Dalam Anak Islam, (Semarang: CV. As-Syifa, Jilid. I, 1998), hlm. 3.
[2]  Ahmad Tafsir, Ilmu Pendidikan Dalam Persepektif Islam, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 1991), hlm. 143.
[3] Abdullah Nashih Ulwan, Op. Cit, hlm. 70.
[4] Abdullah Nashih Ulwan, Pendidik Anak Menurut Islam (kaidah-kaidah Dasar), (Bandung: Remaja Rosdakarya, 1992), hlm. 65-66.
[5] Hikmah: ialah Perkataan yang tegas dan benar yang dapat membedakan antara yang hak dengan yang bathil
[6] Ahmad D. Marimba, Pengantar Filsafat Pendidikan, (Bandung: P.T. Ma’arif, Cet. VIII, 1989), hlm. 82.

Mendidik Akhlak Pada Anak-Anak Dalam Persepektif Al-Quran

Mendidik Akhlak Pada Anak-Anak Dalam Persepektif Al-Quran



Dalam siklus kehidupan manusia, masa anak-anak merupakan sebuah priode yang paling penting, namun juga merupakan suatu priode yang sangat berbahaya dalam artian sangat memerlukan perhatian kedua orang tua, sebab seorang anak pada hakikatnya telah tercipta dengan kemampuan untuk menerima kebaikan maupun keburukan. Maka kadu orang tualah yang membuat anak akan condong kea rah yang mana.
Al-Quran telah memberikan gambaran jelas, bagaimana mendidik anak yang tertuang dalam surat Luqman, antar lain:

1.      Akhlak kepada Allah Swt

“Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar”.(Q.S. Luqman: 13)
    
Ayat diatas mengisyaratkan bagaimana seharusnya para orang tua mendidik anaknya untuk mengesakan penciptanya dan memegang prinsip tauhid dengan tidak menyekutukan Allah Swt.
Kemudian anak-anak dianjurkan untuk mengerjakan shalat. Sehingga terbentuk manusia yang senantiasa kontak dengan penciptanya. Dalam hal ini telah disebutkan dalam surat Luqman yang berbunyi 
“Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu Termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah)”. (Q.S. Luqman: 17)


2.      Akhlak kepada Orang Tua

“ Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu- bapanya; ibunya telah mengandungnya dalam Keadaan lemah yang bertambah- tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun.[1] bersyukurlah kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada Akulah kamu kembali”. (Q.S. Luqman; 14)
     Islam mendidik anak-anak untuk selalu berbuat baik terhadap orang tua sebagai rasa terimakasih atas perhatian, kasih sayang dan semua yang telah mereka lakukan untuk anaknya. Bahkan perintah untuk bersyukur kepada orang tua menepati posisi setelah perintah bersyukur kepada Allah Swt.

3.         Akhlak kepada Orang Lain

“Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri”. (Q.S. Luqman: 18)
    
Kaitanya kehidupan bermasyarakat. Anak-anak haruslah dididik untuk tidak bersikap acuh terhadap sesama, sombong atas mereka, dan dan berjalan dimuka bumi dengan congkak. Karena prilaku-prilaku tersebut tidak disenagi oleh Allah Swt dan dibenci manusia. 

4.         Akhlak kepada Diri Sendiri

“Dan sederhanalah kamu dalam berjalan[2] dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai”. (Q.S. Lukman: 19)
    
     Berbarengan dengan larangan berjalan dengan congkak. Allah memerintahkan untuk sederhana dalam berjalan, dengan tidak mrnghempaskan tenaga dalam bergaya, tidak melengak-lengok, tidak memanjangkan leher karena angkuh, akan tetapi berjalan dengan sederhana, langkah yang sopan dan tegap. Memelakan suara adalah budi budi yang luhur. Begitu pula percaya diri dan tenang karena berbicara jujur. Suara lantang (melengking) dalam berbicara termasuk perangi yang buruk.

     Demikian Allah Swt telah memberikan contoh yang kongkret cara mendidik akhlak kepada anak-anak. Jika setiap orang tua dapat melaksanakannya dengan baik, maka besar harapan anak-anak akan tumbuh menjadi manusia-manusia muslim yang berakhlak luhur.  




[1] Maksudnya: Selambat-lambat waktu menyapih ialah setelah anak berumur dua tahun.
[2] Maksudnya: ketika kamu berjalan, janganlah terlampau cepat dan jangan pula terlalu lambat.