Sikap
Anak Pada Masa Transisi Menuju Remaja
Perubahan-perubahan
sikap anak pada masa transisi menuju remaja yang menonjol dalam diri seorang
anak mengundang banyak penafsiran para ahli, diantaranya yaitu Spranger dan Conger. Spranger adalah
teori kepribadian yang berorientasikan pada sikap individu terhadap nilai-nilai
yang menafsirkan masa remaja yang Fundamental yaitu: kesadaran akan aku,
berangsur-angsur menjadi jelasnya tujuan hidup, pertumbuhan kearah kedalam
berbagai lapangan hidup. Sedangkan Conger
adalah menekamkan pada pendekatan interdispliner dalam pemahamannya terhadap
kehidupan remaja masa kini yang menafsirkan masa remaja itu sebagai masa yang
amat kritis yang mungkin dapat merupakan “the
best of time and the worst of time”. Kalau individu mampu mengatasi
berbagai tuntunan yang dihadapinya secara integrative, ia akan menenemukan
identitasnya yang akan dibawanya menjelang masa dewasanya. Sebaliknya, kalau
gagal, ia akan berada pada krisis identitas (identity
crisis) yang berkepanjangan.[1]
Gambaran
umum mengenai profil prilaku dan pribadi remaja akan sangat penting diketahui
sebelum diadakan pendidikdn kepribadian bagi remaja. Gambaran umum tersebut
merupakan transisi mulai dari awal sampai berakhirnya masa remaja, yaitu:
1. Fisik
dan Prilaku Psikomotorik
a.
Remaja Awal
Laju
perkembangan sangat cepat, proporsi tubuh sering kurang seimbang, munculnya
cirri-ciri sekunder, gerak-gerik tampak canggung dan kurang terkoordinasi.
b.
Remaja Akhir
Laju
perkembangan mulai menurun, proporsi tubuh lebih seimbang, siap berfungsinya
organ-organ reproduksi, gerak-gerik mulai mantap.
2. Prilaku
Sosial, Moralitas dan Religius
a.
Remaja Awal
Dengan
sikapnya dan cara berfikirnya yang kritis mulai menguji kaidah-kaidah dan nilai
etis dengan kenyataan dalam prilaku sehari-hari oleh para pendukungnya (orang
dewasa), meniru idolanya, penghayatan kehidupan keagamaan dilakukan atas dasar
paksaan dari luar.
b.
Remaja Akhir
Sudah
berangsur dapat menentukan dan menilai tindakannya sendiri atas norma atau
sistem yang dipilihnya, eksistensi Tuhan mulai dipahamkan dan dihayati menurut
system agamanya, penghayatan keagamaan mulai dilakukan atas dasar kesadaran dan
pertimbangan hati nurani, sudah bisa memisahkan antara sistem nilai,
kebergantungan kepada kelompok sebaya berangsur fleksibel.
3. Prilaku
Kongnitif
a.
Remaja Awal
Pengamatan
dan tanggapan masih bersifat realism kritis, proses berfikirnya sudah mampu
mengoperasikan kaidah-kaidah logika formal dan dalam trem yang bersifat
abstrak, kecakapn dasr intelektual umumnya menjalani laju perkembangan yang
terpesat.
b.
Remaja Akhir
Lebih
bersifat rasionalisme idealis, kemampuan membuat generalisasi yang lebih
bersifat konklusif dan komprehensif, tercapainya titik pusat kedewasaan.[2]
Berdasarkan
gambaran umum mengenai profil prilaku dan pribadi remaja tersebut, dapat
dilihat bahwa remaja merupakan masa transisi menuju kematangan individu, lajunya
proses perkembangan prilaku dan pribadi itu dipengaruhi oleh dua faktor
dominan, yaitu: faktor bawaan (heredity)
dan faktor lingkungan (environment)
termasuk latiha dan belajar (training and
learning). Kedua faktor tersebut senantiasa bervariasi yang mungkin dapat
menguntungkan, menghambat, atau membatasi lajunya proses perkembangan tersebut.[3]
Oleh
karena garis lintas perpindahan dari awal sampai akir masa remaja itu tidaklah
selalu berjalan mulus, tetapi mungkin berliku-liku bergantung atas variasi
faktor dominan tersebut. Maka para remaja harus memahami dirinya, masa remaja
adalah masa terpenting karena masa ini adalah masa yang menentukan hari
depanya, kehidupannya, kehidupan keluarganya, bahkan menentukan nasib bangsa
dan negaranya.[4]
[1] Abin Syamsuddin Makmun, Pisikologi Kependidikan (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, Cet. V, 2002), 132.
[2] Ibid, hlm. 133-135.
[3] Jhon P. Miller, Cerdas di Kelas Kepribadian, disadur
oleh Abdul Munir Mulkhan (Yokyakarta: Kreasi Wacana, 2002), hlm. 10.
[4] Agus Sujanto, Psikologi Perkembangan (Jakarta: Aksara
Baru, 1984), hlm. 175.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar