Rabu, 23 Desember 2015

Sikap Transisi Anak Menuju Remaja

Sikap Anak Pada Masa Transisi Menuju Remaja


Perubahan-perubahan sikap anak pada masa transisi menuju remaja yang menonjol dalam diri seorang anak mengundang banyak penafsiran para ahli, diantaranya yaitu Spranger dan Conger. Spranger adalah teori kepribadian yang berorientasikan pada sikap individu terhadap nilai-nilai yang menafsirkan masa remaja yang Fundamental yaitu: kesadaran akan aku, berangsur-angsur menjadi jelasnya tujuan hidup, pertumbuhan kearah kedalam berbagai lapangan hidup. Sedangkan Conger adalah menekamkan pada pendekatan interdispliner dalam pemahamannya terhadap kehidupan remaja masa kini yang menafsirkan masa remaja itu sebagai masa yang amat kritis yang mungkin dapat merupakan “the best of time and the worst of time”. Kalau individu mampu mengatasi berbagai tuntunan yang dihadapinya secara integrative, ia akan menenemukan identitasnya yang akan dibawanya menjelang masa dewasanya. Sebaliknya, kalau gagal, ia akan berada pada krisis identitas (identity crisis) yang berkepanjangan.[1]
Gambaran umum mengenai profil prilaku dan pribadi remaja akan sangat penting diketahui sebelum diadakan pendidikdn kepribadian bagi remaja. Gambaran umum tersebut merupakan transisi mulai dari awal sampai berakhirnya masa remaja, yaitu:
1.      Fisik dan Prilaku Psikomotorik
a.       Remaja Awal
Laju perkembangan sangat cepat, proporsi tubuh sering kurang seimbang, munculnya cirri-ciri sekunder, gerak-gerik tampak canggung dan kurang terkoordinasi.
b.      Remaja Akhir
Laju perkembangan mulai menurun, proporsi tubuh lebih seimbang, siap berfungsinya organ-organ reproduksi, gerak-gerik mulai mantap.
2.      Prilaku Sosial, Moralitas dan Religius
a.       Remaja Awal
Dengan sikapnya dan cara berfikirnya yang kritis mulai menguji kaidah-kaidah dan nilai etis dengan kenyataan dalam prilaku sehari-hari oleh para pendukungnya (orang dewasa), meniru idolanya, penghayatan kehidupan keagamaan dilakukan atas dasar paksaan dari luar.
b.      Remaja Akhir
Sudah berangsur dapat menentukan dan menilai tindakannya sendiri atas norma atau sistem yang dipilihnya, eksistensi Tuhan mulai dipahamkan dan dihayati menurut system agamanya, penghayatan keagamaan mulai dilakukan atas dasar kesadaran dan pertimbangan hati nurani, sudah bisa memisahkan antara sistem nilai, kebergantungan kepada kelompok sebaya berangsur fleksibel.
3.      Prilaku Kongnitif
a.       Remaja Awal
Pengamatan dan tanggapan masih bersifat realism kritis, proses berfikirnya sudah mampu mengoperasikan kaidah-kaidah logika formal dan dalam trem yang bersifat abstrak, kecakapn dasr intelektual umumnya menjalani laju perkembangan yang terpesat.
b.      Remaja Akhir
Lebih bersifat rasionalisme idealis, kemampuan membuat generalisasi yang lebih bersifat konklusif dan komprehensif, tercapainya titik pusat kedewasaan.[2]

         Berdasarkan gambaran umum mengenai profil prilaku dan pribadi remaja tersebut, dapat dilihat bahwa remaja merupakan masa transisi menuju kematangan individu, lajunya proses perkembangan prilaku dan pribadi itu dipengaruhi oleh dua faktor dominan, yaitu: faktor bawaan (heredity) dan faktor lingkungan (environment) termasuk latiha dan belajar (training and learning). Kedua faktor tersebut senantiasa bervariasi yang mungkin dapat menguntungkan, menghambat, atau membatasi lajunya proses perkembangan tersebut.[3]
            Oleh karena garis lintas perpindahan dari awal sampai akir masa remaja itu tidaklah selalu berjalan mulus, tetapi mungkin berliku-liku bergantung atas variasi faktor dominan tersebut. Maka para remaja harus memahami dirinya, masa remaja adalah masa terpenting karena masa ini adalah masa yang menentukan hari depanya, kehidupannya, kehidupan keluarganya, bahkan menentukan nasib bangsa dan negaranya.[4]




[1] Abin Syamsuddin Makmun, Pisikologi Kependidikan (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, Cet. V, 2002), 132.
[2] Ibid, hlm. 133-135.
[3] Jhon P. Miller, Cerdas di Kelas Kepribadian, disadur oleh Abdul Munir Mulkhan (Yokyakarta: Kreasi Wacana, 2002), hlm. 10.
[4] Agus Sujanto, Psikologi Perkembangan (Jakarta: Aksara Baru, 1984), hlm. 175.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar