Mencontoh Nabi Ibrahim Dalam Mendidik Anak Shaleh
(Mendidikan Anak yang Shaleh)
Sebuah masyarakat tidak akan bisa menjadi
bahagia dan sejahtera jika masyarakat itu gagal dalam membangun
keluarga-keluarga kecil. Apabila kita berbicara tentang keluarga unsur
terpenting dalam keluarga adalah Anak karena sebagai generasi penerus. Pada
zaman modren ini sangat menghawatirkan karena sikap negatif yang secara umum
ditonjolkan seorang anak terutama pada masa remaja, penyebab dari itu adalah
kurangnya kepedulian orang tua terhadap anak dalam pendidikan tentang agama.
Marilah kita berhenti sejenak, membuka
hati untuk belajar dari ayahanda Nabiyullah Ibrahim ‘alaihissalam. Belajar tentang betapa pentingnya
nilai keluarga kita, tentang betapa pentingnya nilai seorang anak bagi orangtua
di dunia dan akhirat.
Berikut bagaimana Nabi Ibrahim mendidik
anak menjadi anak shaleh yaitu Nabi Isma’il:
1.
Menjadi
Orang Tua Shaleh
Dari
kisah Nabiyullah Ibrahim ‘alaihissalam adalah bahwa untuk mendapatkan anak
yang shaleh, maka orangtua terlebih dahulu berusaha menjadi orang yang shaleh.
Karena siap menjadi orangtua artinya siap menjadi teladan untuk keluarga, bukan
sekedar memberi makan dan mencukupi kebutuhan anak, Allah berfirman:
“Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang
baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia…” Q.S.
Al-Mumtahanah : 4
Mungkin
banyak di antara kita yang sekedar “mau” memiliki anak yang shaleh. Tetapi
tidak berusaha menjadi orangtua yang shaleh.
Pertanyaannya
adalah: Apakah kita selaku orangtua sudah berusaha untuk belajar dan berusaha
menjadi orangtua yang shaleh? Jawaban itu ada pada diri kita masing-masing.
2. Mendo’akan Anak
Selaku orangtua kita harus selalu berdo’a kepada Allah agar
memiliki anak yang shaleh. Seperti
doa-doa Nabiyullah Ibrahim ‘alaihissalam,
Allah Swt berfirman:
“Tuhanku,
karuniakanlah untukku (seorang anak) yang termasuk orang-orang shaleh.”
(Q.S. As-Shaffat:100)
“Ya Tuhanku, jadikanlah aku orang yang
menegakkan shalat, juga dari keturunanku. Ya Tuhan kami, kabulkanlah doaku.”
(Q.S. Ibrahim: 40)
Oleh karena itu marilah kita belajar dari beliau dan selalu
berdoa untuk anak-anak kita khususnya pada waktu sholat dan waktu-waktu
dikabulkannya doa.
3.
Berbuat Baiklah Kepada Orang Tua Kita,
Niscaya Anak-Anak Kita Akan Berbuat Baik Kepada Kita
Coba kita
lihat kembali akhlak nabi ibrahim dan kelembutannya, beliau mendoakan ayahnya
yang musyrik. Allah Swt berfirman:
“Wahai bapakku, sesungguhnya telah datang
kepadaku sebahagian ilmu pengetahuan yang tidak datang kepadamu, maka ikutilah
aku, niscaya aku akan menunjukkan kepadamu jalan yang lurus. Wahai bapakku,
janganlah kamu menyembah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu durhaka kepada Tuhan
Yang Maha Pemurah. Wahai bapakku, sesungguhnya aku khawatir bahwa kamu akan
ditimpa azab dari Tuhan Yang Maha Pemurah, maka kamu menjadi kawan bagi
syaitan”. (QS. Maryam:43-45)
Meskipun
ayahnya bersikap keras dan mengancam akan membunuhnya
“Jika kamu tidak berhenti,
maka niscaya kamu akan kurajam.” (QS. Maryam:46)
Akan tetapi
pada saat itu nabi ibrahim sangat santun dan berbakti kepada ayahnya
Berkata Ibrahim: “Semoga
keselamatan dilimpahkan kepadamu, aku akan meminta ampun bagimu kepada Tuhanku.”
(QS. Maryam:47)
Karena
kebaikan dan kesantunan kepada orang tuanya itulah sehingga Nabiyullah Ibarahim
layak mendapatkan anak yang shaleh yaitu nabiyullah isma’il.
“Maka Kami beri dia kabar
gembira dengan seorang anak yang amat sabar.” (QS. As-Shaffat:101)
4.
Ajaklah Anak Kita Berdialog
Perhatikanlah
sebuah dialog yang luar biasa ini, yaitu dialog tentang salah satu perintah
Allah yang berkaitan dengan perintah yang sulit pada dirinya, akan tetapi Nabiyullah
Ibrahim ‘alaihissalam menjalaninya
dengan sebuah dialog yang bijaksana
Ibrahim berkata: “Hai anakku Sesungguhnya aku
melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!.....”
Q.S. As-Shafaat :102
Sungguh Nabi
Ibrahim telah menyertakan anaknya dalam pengambilan sebuah keputusan tentang
perintah Allah yang sulit, Beliau meminta pendapat tanpa memaksa dan
bermusyawarah bagaimana baiknya dalam melaksanakan perintah Allah, oleh karena
itu kita selaku orangtua janganlah sekali-sekali memaksakan kehendak kepada
anak-anak kita dalam suatu urusan,
sepanjang tidak menyimpang dari norma-norma agama, namun kita tetap memberikan
bimbingan yang sebaik-baiknya untuk mengarahkan kemana arah yang baik.
Ketika nabi
ibrahim mengajak dialog dan menyertakan anak tersebut dalam pengambilan
keputusan penting dalam melaksanakan perintah Allah, akhirnya sang anak yaitu
Nabi Isma’il pun kemudian menjawab :
Ia menjawab (Ismail): “Hai
bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu, insya Allah kamu akan
mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”.( QS. As-Shaffat:102)
Dalam
ayat ini Nabi isam’il merupakan contoh yang baik bagi anak-anak. Selaku anak
harus tetap tunduk terhadap orangtua sekalipun berat, sebagaimana yang dialami
nabi isma’il, sekalipun beliau akan disembelih, tetap tunduk dan bersedia,
karena mengharap keridhaan Allah semata.
5.
Pembinaan Dan Kontrol Yang Berkelanjutan
Terhadap Anak-Anak
Mekipun pada
saat itu Nabi Ibrahim tinggal di Palestina dan anaknya Nabi Ismail tinggal di
Makkah, akan tetapi hal itu tidak menjadikan Nabi Ibrahim kemudian lupa dan
tidak lagi memantau keadaan anaknya. Nabi Ibrahim masih mengunjungi anaknya dan
memantau keadaan anaknya tersebut, termasuk lingkungan yang ditempati Nabi
Ismail.
6.
Sertakan Anak Kita Dalam Melaksanakan Kebaikan
Hal ini
terbukti ketika Nabi Ibrahim berkata kepada anaknya Nabi Isma’il : sesungguhnya
Allah memerintahkanku agar membangun rumah disini, Apakah kamu mau membantuku?
Isma’il pun menjawab : Akan aku kerjakan insya Allah.
Anak akan
tumbuh sebagaimana kebiasaan kedua orang tuanya dan tarbiyah keluarganya, oleh
karena itu biasakanlah meminta bantuan kepada anak kita, ketika mengerjakan
kebaikan dan sertakan dia bersama kita ketika melaksanakan amal-amal ketaatan
seperti shalat dan pintu-pintu kebaikan lainnya.
7.
Tanamkanlah Keikhlasan Dihati Anak Kita
“Dan (ingatlah), ketika
Ibrahim meninggikan (membina) dasar-dasar Baitullah bersama Ismail (seraya
berdo`a): “Ya Tuhan kami terimalah daripada kami (amalan kami), sesungguhnya
Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”.( QS. Al-Baqarah:12)7
Nabi Ibrahim
telah mengajarkan kepada kita ketika melaksanakan ketaatan agar kita
menisbatkan segala keutamaan hanya kepada Allah saja dan melepaskan daya serta
kekuatan kita lalu berdoa kepada Allah agar menerima amal kita. Dengan begitu
kita telah menanamkan nilai-nilai keikhlasan pada hati dan jiwa anak-anak kita
dan menjauhkan mereka dari sifat sombong dan ujub.
Apabila
kita selaku orangtua bisa mempraktekkan cara mendidik anak-anak kita,
seperti cara mendidik nabiyullah Ibrahim A.S. kepada putranya nabiyullah
Isma’il, Maka kita akan memperoleh keluarga yang bahagia yang diridhai Allah
dan mempunyai anak yang Shaleh yang menjadi tabungan kita diakhirat kelak.
Amin.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar