Sabtu, 26 Desember 2015

Contoh Nabi Ibrahim Dalam Mendidik Anak

Mencontoh Nabi Ibrahim Dalam Mendidik Anak Shaleh
(Mendidikan Anak yang Shaleh)


Sebuah masyarakat tidak akan bisa menjadi bahagia dan sejahtera jika masyarakat itu gagal dalam membangun keluarga-keluarga kecil. Apabila kita berbicara tentang keluarga unsur terpenting dalam keluarga adalah Anak karena sebagai generasi penerus. Pada zaman modren ini sangat menghawatirkan karena sikap negatif yang secara umum ditonjolkan seorang anak terutama pada masa remaja, penyebab dari itu adalah kurangnya kepedulian orang tua terhadap anak dalam pendidikan  tentang agama.
Marilah kita berhenti sejenak, membuka hati untuk belajar dari ayahanda Nabiyullah Ibrahim ‘alaihissalam. Belajar tentang betapa pentingnya nilai keluarga kita, tentang betapa pentingnya nilai seorang anak bagi orangtua di dunia dan akhirat.
Berikut bagaimana Nabi Ibrahim mendidik anak menjadi anak shaleh yaitu Nabi Isma’il:

1.      Menjadi Orang Tua Shaleh
Dari kisah Nabiyullah  Ibrahim ‘alaihissalam adalah bahwa untuk mendapatkan anak yang shaleh, maka orangtua terlebih dahulu berusaha menjadi orang yang shaleh. Karena siap menjadi orangtua artinya siap menjadi teladan untuk keluarga, bukan sekedar memberi makan dan mencukupi kebutuhan anak, Allah berfirman:
 “Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia…” Q.S. Al-Mumtahanah : 4
Mungkin banyak di antara kita yang sekedar “mau” memiliki anak yang shaleh. Tetapi tidak berusaha menjadi orangtua yang shaleh.
Pertanyaannya adalah: Apakah kita selaku orangtua sudah berusaha untuk belajar dan berusaha menjadi orangtua yang shaleh? Jawaban itu ada pada diri kita masing-masing.
2.      Mendo’akan Anak

Selaku orangtua kita harus selalu berdo’a kepada Allah agar memiliki anak yang shaleh.  Seperti doa-doa Nabiyullah Ibrahim ‘alaihissalam, Allah Swt berfirman:
            “Tuhanku, karuniakanlah untukku (seorang anak) yang termasuk orang-orang shaleh.”
(Q.S. As-Shaffat:100)  
“Ya Tuhanku, jadikanlah aku orang yang menegakkan shalat, juga dari keturunanku. Ya Tuhan kami, kabulkanlah doaku.” (Q.S. Ibrahim: 40)
Oleh karena itu marilah kita belajar dari beliau dan selalu berdoa untuk anak-anak kita khususnya pada waktu sholat dan waktu-waktu dikabulkannya doa.

3.      Berbuat Baiklah Kepada Orang Tua Kita, Niscaya Anak-Anak Kita Akan Berbuat Baik Kepada Kita

Coba kita lihat kembali akhlak nabi ibrahim dan kelembutannya, beliau mendoakan ayahnya yang musyrik. Allah Swt berfirman:
 “Wahai bapakku, sesungguhnya telah datang kepadaku sebahagian ilmu pengetahuan yang tidak datang kepadamu, maka ikutilah aku, niscaya aku akan menunjukkan kepadamu jalan yang lurus. Wahai bapakku, janganlah kamu menyembah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu durhaka kepada Tuhan Yang Maha Pemurah. Wahai bapakku, sesungguhnya aku khawatir bahwa kamu akan ditimpa azab dari Tuhan Yang Maha Pemurah, maka kamu menjadi kawan bagi syaitan”. (QS. Maryam:43-45)
Meskipun ayahnya bersikap keras dan mengancam akan membunuhnya
“Jika kamu tidak berhenti, maka niscaya kamu akan kurajam.” (QS. Maryam:46)
Akan tetapi pada saat itu nabi ibrahim sangat santun dan berbakti kepada ayahnya
Berkata Ibrahim: “Semoga keselamatan dilimpahkan kepadamu, aku akan meminta ampun bagimu kepada Tuhanku.” (QS. Maryam:47)
Karena kebaikan dan kesantunan kepada orang tuanya itulah sehingga Nabiyullah Ibarahim layak mendapatkan anak yang shaleh yaitu nabiyullah isma’il.
“Maka Kami beri dia kabar gembira dengan seorang anak yang amat sabar.”                              (QS. As-Shaffat:101)

4.      Ajaklah Anak  Kita Berdialog

Perhatikanlah sebuah dialog yang luar biasa ini, yaitu dialog tentang salah satu perintah Allah yang berkaitan dengan perintah yang sulit pada dirinya, akan tetapi Nabiyullah Ibrahim ‘alaihissalam menjalaninya dengan sebuah dialog yang bijaksana
 Ibrahim berkata: “Hai anakku Sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!.....” Q.S. As-Shafaat :102
Sungguh Nabi Ibrahim telah menyertakan anaknya dalam pengambilan sebuah keputusan tentang perintah Allah yang sulit, Beliau meminta pendapat tanpa memaksa dan bermusyawarah bagaimana baiknya dalam melaksanakan perintah Allah, oleh karena itu kita selaku orangtua janganlah sekali-sekali memaksakan kehendak kepada anak-anak kita dalam  suatu urusan, sepanjang tidak menyimpang dari norma-norma agama, namun kita tetap memberikan bimbingan yang sebaik-baiknya untuk mengarahkan kemana arah yang baik.
Ketika nabi ibrahim mengajak dialog dan menyertakan anak tersebut dalam pengambilan keputusan penting dalam melaksanakan perintah Allah, akhirnya sang anak yaitu Nabi Isma’il pun kemudian menjawab :
Ia menjawab (Ismail): “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu, insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”.( QS. As-Shaffat:102)
            Dalam ayat ini Nabi isam’il merupakan contoh yang baik bagi anak-anak. Selaku anak harus tetap tunduk terhadap orangtua sekalipun berat, sebagaimana yang dialami nabi isma’il, sekalipun beliau akan disembelih, tetap tunduk dan bersedia, karena mengharap keridhaan Allah semata.

5.      Pembinaan Dan Kontrol Yang Berkelanjutan Terhadap Anak-Anak

Mekipun pada saat itu Nabi Ibrahim tinggal di Palestina dan anaknya Nabi Ismail tinggal di Makkah, akan tetapi hal itu tidak menjadikan Nabi Ibrahim kemudian lupa dan tidak lagi memantau keadaan anaknya. Nabi Ibrahim masih mengunjungi anaknya dan memantau keadaan anaknya tersebut, termasuk lingkungan yang ditempati Nabi Ismail.

6.      Sertakan Anak Kita Dalam Melaksanakan Kebaikan

Hal ini terbukti ketika Nabi Ibrahim berkata kepada anaknya Nabi Isma’il : sesungguhnya Allah memerintahkanku agar membangun rumah disini, Apakah kamu mau membantuku? Isma’il pun menjawab : Akan aku kerjakan insya Allah.
Anak akan tumbuh sebagaimana kebiasaan kedua orang tuanya dan tarbiyah keluarganya, oleh karena itu biasakanlah meminta bantuan kepada anak kita, ketika mengerjakan kebaikan dan sertakan dia bersama kita ketika melaksanakan amal-amal ketaatan seperti shalat dan pintu-pintu kebaikan lainnya.

7.      Tanamkanlah Keikhlasan Dihati Anak Kita

“Dan (ingatlah), ketika Ibrahim meninggikan (membina) dasar-dasar Baitullah bersama Ismail (seraya berdo`a): “Ya Tuhan kami terimalah daripada kami (amalan kami), sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”.( QS. Al-Baqarah:12)7
Nabi Ibrahim telah mengajarkan kepada kita ketika melaksanakan ketaatan agar kita menisbatkan segala keutamaan hanya kepada Allah saja dan melepaskan daya serta kekuatan kita lalu berdoa kepada Allah agar menerima amal kita. Dengan begitu kita telah menanamkan nilai-nilai keikhlasan pada hati dan jiwa anak-anak kita dan menjauhkan mereka dari sifat sombong dan ujub.
Apabila  kita selaku orangtua bisa mempraktekkan cara mendidik anak-anak kita, seperti cara mendidik nabiyullah Ibrahim A.S. kepada putranya nabiyullah Isma’il, Maka kita akan memperoleh keluarga yang bahagia yang diridhai Allah dan mempunyai anak yang Shaleh yang menjadi tabungan kita diakhirat kelak. Amin.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar