Akhlak Orang Tua Dalam Mendidik
Anak
Sebuah masyarakat tidak akan bisa menjadi
bahagia dan sejahtera jika masyarakat itu gagal dalam membangun
keluarga-keluarga kecil. Apabila kita berbicara tentang keluarga unsur
terpenting dalam keluarga adalah Anak karena sebagai generasi penerus. Pada
zaman modren ini sangat menghawatirkan karena sikap negatif yang secara umum
ditonjolkan seorang anak terutama pada masa remaja, penyebab dari itu adalah
kurangnya kepedulian orang tua terhadap anak dalam pendidikan tentang agama. Maka selaku orang tua kita harus memperhatikan hal-hal sebagai berikut, yang perlu dilakukan dalam mendidik anak.
Berikut adalah bagaimana akhlak orang tua dalam mendidik anak
Berikut adalah bagaimana akhlak orang tua dalam mendidik anak
1.
Menjadi
Orang Tua Yang Baik
Bahwa untuk
mendapatkan anak yang shaleh, maka orangtua terlebih dahulu berusaha menjadi
orang yang shaleh. Karena siap menjadi orangtua artinya siap menjadi teladan
untuk keluarga, bukan sekedar memberi makan dan mencukupi kebutuhan anak. Allah
Swt berfirman:
“Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang
baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia…” Q.S.
Al-Mumtahanah : 4
Mungkin
banyak di antara kita yang sekedar “mau” memiliki anak yang shaleh. Tetapi
tidak berusaha menjadi orangtua yang shaleh.
2.
Selalu
Mendo’akan Anak-Anaknya
Selaku orangtua
kita harus selalu berdo’a kepada Allah agar memiliki anak yang shaleh. Seperti doa-doa Nabiyullah Ibrahim ‘alaihissalam, didalam al-Qur’an:
“Tuhanku, karuniakanlah
untukku (seorang anak) yang termasuk orang-orang shaleh.”
(Q.S. As-Shaffat:100)
“Ya Tuhanku, jadikanlah aku orang yang
menegakkan shalat, juga dari keturunanku. Ya Tuhan kami, kabulkanlah doaku.” (Q.S. Ibrahim: 40)
Oleh
karena itu marilah kita belajar dari beliau dan selalu berdoa untuk anak-anak
kita khususnya pada waktu sholat dan waktu-waktu dikabulkannya doa.
3.
Berbuat
Baik Kepada Kedua Orang Tuanya
Berbuat baiklah kepada orang tua kita, niscaya anak-anak kita akan
berbuat baik kepada Anda, Coba kita lihat kembali
akhlak nabi ibrahim dan kelembutannya, beliau mendoakan ayahnya yang musyrik
“Wahai bapakku, sesungguhnya telah
datang kepadaku sebahagian ilmu pengetahuan yang tidak datang kepadamu, maka
ikutilah aku, niscaya aku akan menunjukkan kepadamu jalan yang lurus. Wahai
bapakku, janganlah kamu menyembah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu durhaka
kepada Tuhan Yang Maha Pemurah. Wahai bapakku, sesungguhnya aku khawatir bahwa
kamu akan ditimpa azab dari Tuhan Yang Maha Pemurah, maka kamu menjadi kawan
bagi syaitan”. (QS. Maryam:43-45)
Meskipun
ayahnya bersikap keras dan mengancam akan membunuhnya
“Jika kamu tidak berhenti, maka
niscaya kamu akan kurajam.” (QS. Maryam:46)
akan
tetapi pada saat itu nabi ibrahim sangat santun dan berbakti kepada ayahnya
Berkata Ibrahim: “Semoga keselamatan
dilimpahkan kepadamu, aku akan meminta ampun bagimu kepada Tuhanku.” (QS.
Maryam:47)
Karena
kebaikan dan kesantunan kepada orang tuanya itulah sehingga Nabiyullah Ibarahim
layak mendapatkan anak yang shaleh yaitu nabiyullah isma’il
“Maka Kami beri dia kabar gembira
dengan seorang anak yang amat sabar”. )QS.As-Shaffat:101)
4.
Ajaklah
Anak Berdialog
Perhatikanlah
sebuah dialog yang luar biasa ini, yaitu dialog tentang salah satu perintah
Allah yang berkaitan dengan perintah yang sulit pada dirinya, akan tetapi
Nabiyullah Ibrahim ‘alaihissalam
menjalaninya dengan sebuah dialog yang bijaksana
Ibrahim berkata: “Hai anakku
Sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah
apa pendapatmu!....”. (Q.S. As-Shafaat :102)
Sungguh Nabi Ibrahim telah menyertakan anaknya dalam pengambilan sebuah
keputusan tentang perintah Allah yang sulit, Beliau meminta pendapat tanpa
memaksa dan bermusyawarah bagaimana baiknya dalam melaksanakan perintah Allah,
oleh karena itu kita selaku orangtua janganlah sekali-sekali memaksakan
kehendak kepada anak-anak kita dalam
suatu urusan, sepanjang tidak menyimpang dari norma-norma agama, namun
kita tetap memberikan bimbingan yang sebaik-baiknya untuk mengarahkan kemana
arah yang baik.
Ketika nabi ibrahim mengajak dialog dan menyertakan anak tersebut dalam
pengambilan keputusan penting dalam melaksanakan perintah Allah, akhirnya sang
anak yaitu Nabi Isma’il pun kemudian menjawab :
Ia (Isma’il) menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang
diperintahkan kepadamu, insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang
yang sabar”. (QS. As-Shaffat:102)
Dalam ayat ini Nabi isam’il merupakan contoh yang baik bagi anak-anak.
Selaku anak harus tetap tunduk terhadap orangtua sekalipun berat, sebagaimana
yang dialami nabi isma’il, sekalipun beliau akan disembelih, tetap tunduk dan
bersedia, karena mengharap keridhaan Allah semata.
5.
Mengontrol
Anak
Mekipun
pada saat itu Nabi Ibrahim tinggal di Palestina dan anaknya Nabi Ismail tinggal
di Makkah, akan tetapi hal itu tidak menjadikan Nabi Ibrahim kemudian lupa dan
tidak lagi memantau keadaan anaknya. Nabi Ibrahim masih mengunjungi anaknya dan
memantau keadaan anaknya tersebut, termasuk lingkungan yang ditempati Nabi
Ismail.
6.
Sertakan
Anak Dalam Hal Kebaikan
Hal
ini terbukti ketika Nabi Ibrahim berkata kepada anaknya Nabi Isma’il :
sesungguhnya Allah memerintahkanku agar membangun rumah disini, Apakah kamu mau
membantuku? Isma’il pun menjawab : Akan aku kerjakan insya Allah.
Anak
akan tumbuh sebagaimana kebiasaan kedua orang tuanya dan tarbiyah keluarganya,
oleh karena itu biasakanlah meminta bantuan kepada anak kita, ketika
mengerjakan kebaikan dan sertakan dia bersama kita ketika melaksanakan
amal-amal ketaatan seperti shalat dan pintu-pintu kebaikan lainnya.
7.
Tanamkan
Keikhlasan Pada Anak
“Dan (ingatlah), ketika Ibrahim
meninggikan (membina) dasar-dasar Baitullah bersama Ismail (seraya berdo`a): Ya
Tuhan kami terimalah daripada kami (amalan kami), sesungguhnya Engkaulah Yang
Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”. (QS. Al-Baqarah:127)
Nabi
Ibrahim telah mengajarkan kepada kita ketika melaksanakan ketaatan agar kita
menisbatkan segala keutamaan hanya kepada Allah saja dan melepaskan daya serta
kekuatan kita lalu berdoa kepada Allah agar menerima amal kita. Dengan begitu
kita telah menanamkan nilai-nilai keikhlasan pada hati dan jiwa anak-anak kita
dan menjauhkan mereka dari sifat sombong dan ujub.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar