Rabu, 16 Desember 2015

Akhlak Orang Tua dalam Mendidik Anak

 Akhlak Orang Tua Dalam Mendidik Anak



Sebuah masyarakat tidak akan bisa menjadi bahagia dan sejahtera jika masyarakat itu gagal dalam membangun keluarga-keluarga kecil. Apabila kita berbicara tentang keluarga unsur terpenting dalam keluarga adalah Anak karena sebagai generasi penerus. Pada zaman modren ini sangat menghawatirkan karena sikap negatif yang secara umum ditonjolkan seorang anak terutama pada masa remaja, penyebab dari itu adalah kurangnya kepedulian orang tua terhadap anak dalam pendidikan  tentang agama. Maka selaku orang tua kita harus memperhatikan hal-hal sebagai berikut, yang perlu dilakukan dalam mendidik anak.
Berikut adalah bagaimana akhlak orang tua dalam mendidik anak

1.      Menjadi Orang Tua Yang Baik
Bahwa untuk mendapatkan anak yang shaleh, maka orangtua terlebih dahulu berusaha menjadi orang yang shaleh. Karena siap menjadi orangtua artinya siap menjadi teladan untuk keluarga, bukan sekedar memberi makan dan mencukupi kebutuhan anak. Allah Swt berfirman:
“Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia…” Q.S. Al-Mumtahanah : 4
Mungkin banyak di antara kita yang sekedar “mau” memiliki anak yang shaleh. Tetapi tidak berusaha menjadi orangtua yang shaleh.
2.      Selalu Mendo’akan Anak-Anaknya
Selaku orangtua kita harus selalu berdo’a kepada Allah agar memiliki anak yang shaleh.  Seperti doa-doa Nabiyullah Ibrahim ‘alaihissalam, didalam al-Qur’an:
 “Tuhanku, karuniakanlah untukku (seorang anak) yang termasuk orang-orang shaleh.”
(Q.S. As-Shaffat:100)  
 “Ya Tuhanku, jadikanlah aku orang yang menegakkan shalat, juga dari keturunanku. Ya Tuhan kami, kabulkanlah doaku.” (Q.S. Ibrahim: 40)
 Oleh karena itu marilah kita belajar dari beliau dan selalu berdoa untuk anak-anak kita khususnya pada waktu sholat dan waktu-waktu dikabulkannya doa.

3.      Berbuat Baik Kepada Kedua Orang Tuanya
Berbuat baiklah kepada orang tua kita, niscaya anak-anak kita akan berbuat baik kepada Anda, Coba kita lihat kembali akhlak nabi ibrahim dan kelembutannya, beliau mendoakan ayahnya yang musyrik
“Wahai bapakku, sesungguhnya telah datang kepadaku sebahagian ilmu pengetahuan yang tidak datang kepadamu, maka ikutilah aku, niscaya aku akan menunjukkan kepadamu jalan yang lurus. Wahai bapakku, janganlah kamu menyembah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu durhaka kepada Tuhan Yang Maha Pemurah. Wahai bapakku, sesungguhnya aku khawatir bahwa kamu akan ditimpa azab dari Tuhan Yang Maha Pemurah, maka kamu menjadi kawan bagi syaitan”. (QS. Maryam:43-45)
Meskipun ayahnya bersikap keras dan mengancam akan membunuhnya
“Jika kamu tidak berhenti, maka niscaya kamu akan kurajam.” (QS. Maryam:46)
akan tetapi pada saat itu nabi ibrahim sangat santun dan berbakti kepada ayahnya
Berkata Ibrahim: “Semoga keselamatan dilimpahkan kepadamu, aku akan meminta ampun bagimu kepada Tuhanku.” (QS. Maryam:47)
Karena kebaikan dan kesantunan kepada orang tuanya itulah sehingga Nabiyullah Ibarahim layak mendapatkan anak yang shaleh yaitu nabiyullah isma’il
“Maka Kami beri dia kabar gembira dengan seorang anak yang amat sabar”. )QS.As-Shaffat:101)

4.      Ajaklah Anak Berdialog
Perhatikanlah sebuah dialog yang luar biasa ini, yaitu dialog tentang salah satu perintah Allah yang berkaitan dengan perintah yang sulit pada dirinya, akan tetapi Nabiyullah Ibrahim ‘alaihissalam menjalaninya dengan sebuah dialog yang bijaksana
Ibrahim berkata: “Hai anakku Sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!....”. (Q.S. As-Shafaat :102)
Sungguh Nabi Ibrahim telah menyertakan anaknya dalam pengambilan sebuah keputusan tentang perintah Allah yang sulit, Beliau meminta pendapat tanpa memaksa dan bermusyawarah bagaimana baiknya dalam melaksanakan perintah Allah, oleh karena itu kita selaku orangtua janganlah sekali-sekali memaksakan kehendak kepada anak-anak kita dalam  suatu urusan, sepanjang tidak menyimpang dari norma-norma agama, namun kita tetap memberikan bimbingan yang sebaik-baiknya untuk mengarahkan kemana arah yang baik.
Ketika nabi ibrahim mengajak dialog dan menyertakan anak tersebut dalam pengambilan keputusan penting dalam melaksanakan perintah Allah, akhirnya sang anak yaitu Nabi Isma’il pun kemudian menjawab :
Ia (Isma’il) menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu, insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”. (QS. As-Shaffat:102)                  
Dalam ayat ini Nabi isam’il merupakan contoh yang baik bagi anak-anak. Selaku anak harus tetap tunduk terhadap orangtua sekalipun berat, sebagaimana yang dialami nabi isma’il, sekalipun beliau akan disembelih, tetap tunduk dan bersedia, karena mengharap keridhaan Allah semata.
5.      Mengontrol Anak
Mekipun pada saat itu Nabi Ibrahim tinggal di Palestina dan anaknya Nabi Ismail tinggal di Makkah, akan tetapi hal itu tidak menjadikan Nabi Ibrahim kemudian lupa dan tidak lagi memantau keadaan anaknya. Nabi Ibrahim masih mengunjungi anaknya dan memantau keadaan anaknya tersebut, termasuk lingkungan yang ditempati Nabi Ismail.

6.      Sertakan Anak Dalam Hal Kebaikan
Hal ini terbukti ketika Nabi Ibrahim berkata kepada anaknya Nabi Isma’il : sesungguhnya Allah memerintahkanku agar membangun rumah disini, Apakah kamu mau membantuku? Isma’il pun menjawab : Akan aku kerjakan insya Allah.
Anak akan tumbuh sebagaimana kebiasaan kedua orang tuanya dan tarbiyah keluarganya, oleh karena itu biasakanlah meminta bantuan kepada anak kita, ketika mengerjakan kebaikan dan sertakan dia bersama kita ketika melaksanakan amal-amal ketaatan seperti shalat dan pintu-pintu kebaikan lainnya.

7.      Tanamkan Keikhlasan Pada Anak
“Dan (ingatlah), ketika Ibrahim meninggikan (membina) dasar-dasar Baitullah bersama Ismail (seraya berdo`a): Ya Tuhan kami terimalah daripada kami (amalan kami), sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”. (QS. Al-Baqarah:127)
Nabi Ibrahim telah mengajarkan kepada kita ketika melaksanakan ketaatan agar kita menisbatkan segala keutamaan hanya kepada Allah saja dan melepaskan daya serta kekuatan kita lalu berdoa kepada Allah agar menerima amal kita. Dengan begitu kita telah menanamkan nilai-nilai keikhlasan pada hati dan jiwa anak-anak kita dan menjauhkan mereka dari sifat sombong dan ujub.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar