Pengertian, Dasar dan Tujuan Akhlak
dalam Persepektif Al-Ghazali
A. Pengertian Akhlak
Menurut al-Ghazali “akhlak” adalah suatu kemantapan (jiwa)
yang menghasilkan perbuatan atau pengalaman dengan mudah tanpa perlu pemikiran
dan pertimbangan, jika kemantapan itu sedemikian sehingga menghasilkan
amal-amal yang baik, yaitu amal yang baik menurut akal dan syari’ah, maka
disebut akhlak yang baik, jika amal-amal yang muncul dari keadaan (kemantapan)
itu amal yang tercela, maka dinamakan amal yang buruk.[1]
Dari definisi tersebut,
dapat diketahui bahwa hakikat akhlak menurut al-Ghazali mencakup dua syarat:
1.
Perbuatan itu harus konsisten
(istiqamah)
Maksudnya
perbuatan itu dilakukan berulang kali dalam bentuk yang sama sehingga dapat
menjadi kebiasaan. Misalnya seseorang yang memberikan sumbangan harta
sekali-sekali karena dorongan keinginan sekonyong-konyong saja, maka orang itu
tidak dapat dikatakan sebagai pemurah selama sifat itu belum tetap dan meresap
dalam jiwa.
2.
Perbuatan itu tumbuh dari hati
Maksudnya
perbuatan itu harus tumbuh dengan mudah sebagi wujud refleksi dari jiwanya
tanpa pertimbangan dan pemikiran, yakni bukan karena adanya tekanan-tekanan,
paksaan-paksaan dari orang lain, atau pengaruh-pengaruh dan bujukan indah dan
sebagainya. Misalnya orang yang memberikan harta benda karena tekanan moral dan
pertimbangan. Maka belum juga termasuk kelompok orang yang pemurah.[2]
B. Dasar Akhlak
Tidak dapat dipungkiri,
bahwa al-Quran adalah sumber hukum Islam, baik dalam aqidah, ibadah maupun
akhlak. Mengenai akhlak, secara implicit dan eksplisit al-Quran telah
menyebutkan beberapa kali mengenai perbuatan baik dan buruk uang merupakan
objek kajian akahlak. Sedangkan dasar pendidikan akhlak.
Allah Swt berfirman:
“Sesungguhnya telah ada pada (diri)
Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu..”. (Q.S. Al-Ahzab:21)
Ayat tersebut menunjukan, bahwa Rasulallah
Saw sebagai suri teladan yang baik dalam segala lapangan kehidupan termasuk
pendidikan akhlak. Oleh karena itu perkataan dan perbuatan Beliau harus
dijadiakn panutan. Dan Allah Swt telah memuji Beliau dalam firman-Nya
“Dan
Sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung”. (Q.S. Al-Qalam: 4)
Dalam konteks ini, manusia telah diberi
Allah Swt potensi yang baik dan potensi yang buruk . potensi-potensi ini perlu
mendapatkan bimbingan menuju ke arah
yang mulia. Disinilah pentingnya pendidikan akhlak.
C. Tujuan Akhlak
Dalam segala usaha yang
dilakukan secara sadar oleh manusia, pasti tidak lepas dari tujuan. Demikan
pula dengan halnya akhlak.
Dan tujuan akhlak menurut
al-Ghazali adalah diarahkan pada pembentukan kebagusan akhlak.dan kebagusan
akhlak menurut al-Ghazali adalah iman. Dan keburukan akhlak itu adalah nifaq
(sifat oaring munafiq).[3]
Pendapat al-ghazali tesebut, ia sandarkan pada firman Allah Swt dalam surat
al-Mukminun ayat 1-10.
Artinya:
1. Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang
beriman,
2.
(yaitu) orang-orang yang khusyu' dalam
sembahyangnya,
3. Dan orang-orang yang menjauhkan
diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna,
4.
Dan orang-orang yang menunaikan zakat,
5.
Dan orang-orang yang menjaga kemaluannya,
6. Kecuali terhadap isteri-isteri
mereka atau budak yang mereka miliki[4].
Maka Sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada terceIa.
7. Barangsiapa mencari yang di balik
itu,
Maka mereka Itulah orang-orang yang melampaui batas.
8.
Dan orang-orang yang memelihara
amanat-amanat (yang dipikulnya) dan janjinya.
9.
Dan orang-orang yang memelihara
sembahyangnya.
10.
Mereka Itulah orang-orang yang akan mewarisi. (Q.S. Al-mukminun: 1-10)
Disamping
itu, dikatakan pula bahwa diantara tujuan daripada pendidikan akhlak dapat
dilihat pada hasil usaha perbaikan akhlak yaitu untuk membarsihkan qalbu dari
kotoran-kotoran hawa nafsu dan amarah, sehimgga hati menjadisuci bersih,
bagaikan cermin yang dapat menerima nur cahaya Tuhan.[5]
Berdasarkan
keterangan-keterangan al-Ghazali diatas, tujuan pendidikan akhlak dapat dapat
dibagi menjadi dua, yaitu:
1.
Tujuan Tertinggi
Tujuan tertinggi adalah
kembali pada kedudukan manusia di dunia sebagai hamba Allah, yaitu agar taat
(beriman0 kepada Allah.
Allah berfirman:
“Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia
melainkan supaya mereka menyembah-Ku” (Q.S Adz-Dzariat: 56)
2.
Tujuan Perantara
Maksudnya adalah tujuan yang dicapai
untuk tujuan yang lebih tinggi. Dalam hal ini berupa kebiasaan yang baik dan
menjauhkan dar perbuatan yang tercela. Sehingga dapat mencapai derajat muttaqin.
Seperti disebutkan dalm surat al-Mukminun 1-10 tentang tanda-tanda orang yang
beriman, diantaranya adalah orang yang khusyu’ shalatnya, membayar zakat, dan
sebagainya. Hal ini sesuaidenagn pendapat Barmawie Umary yang mengatakan tujuan
dari pendidikan akhlak adalah “ supaya dapat terbiasa melakukan yang baik,
indah, terpuji, serta menghindari yang buruk, jelek, hina, tercela.[6]
[1] Al-Ghazali, Ihya Ulumuddin, (Mesir: Dar Ihya al-Kutub al-Arab, juz. III, t.th),
hlm. 52.
[2] Zainuddin dkk, Seluk Beluk Pendidikan dari Al-Ghazali
(Jakarta: Bumi Aksara, 1991), hlm. 102.
[3] Al-Ghazali, Ihya Al-Ghazli, terj. Ismail Yakub (Jakarta: C.V Faizin, Jilid.
III, 1986), hlm. 183.
[4] Maksudnya: budak-budak belian
yang didapat dalam peperangan dengan orang kafir, bukan budak belian yang
didapat di luar peperangan. dalam peperangan dengan orang-orang kafir itu,
wanita-wanita yang ditawan biasanya dibagi-bagikan kepada kaum muslimin yang
ikut dalam peperangan itu, dan kebiasan ini bukanlah suatu yang diwajibkan.
imam boleh melarang kebiasaan ini. Maksudnya: budak-budak yang dimiliki yang suaminya
tidak ikut tertawan bersama-samanya.
[5] Dr. Mustafa Zahri, Kunci Memahami Ilmu Tasawuf (dikutip
dari al-Ghazali, Kimiyaus Sa’adah), (Surabaya: Bina Ilmu, 1994), hlm. 862.
[6] Drs. Barmawie Umary, Materia Akhlak (Solo: Ramadhani, 1993),
hlm. 2.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar