Senin, 21 Desember 2015

Pengertian, Dasar dan Tujuan Akhlak dalam Persepektif Al-Ghazali

Pengertian, Dasar dan Tujuan Akhlak dalam Persepektif Al-Ghazali


A. Pengertian Akhlak
Menurut al-Ghazali “akhlak” adalah suatu kemantapan (jiwa) yang menghasilkan perbuatan atau pengalaman dengan mudah tanpa perlu pemikiran dan pertimbangan, jika kemantapan itu sedemikian sehingga menghasilkan amal-amal yang baik, yaitu amal yang baik menurut akal dan syari’ah, maka disebut akhlak yang baik, jika amal-amal yang muncul dari keadaan (kemantapan) itu amal yang tercela, maka dinamakan amal yang buruk.[1]
Dari definisi tersebut, dapat diketahui bahwa hakikat akhlak menurut al-Ghazali mencakup dua syarat:
1.      Perbuatan itu harus konsisten (istiqamah)
Maksudnya perbuatan itu dilakukan berulang kali dalam bentuk yang sama sehingga dapat menjadi kebiasaan. Misalnya seseorang yang memberikan sumbangan harta sekali-sekali karena dorongan keinginan sekonyong-konyong saja, maka orang itu tidak dapat dikatakan sebagai pemurah selama sifat itu belum tetap dan meresap dalam jiwa.
2.      Perbuatan itu tumbuh dari hati
Maksudnya perbuatan itu harus tumbuh dengan mudah sebagi wujud refleksi dari jiwanya tanpa pertimbangan dan pemikiran, yakni bukan karena adanya tekanan-tekanan, paksaan-paksaan dari orang lain, atau pengaruh-pengaruh dan bujukan indah dan sebagainya. Misalnya orang yang memberikan harta benda karena tekanan moral dan pertimbangan. Maka belum juga termasuk kelompok orang yang pemurah.[2]  

B.  Dasar Akhlak
Tidak dapat dipungkiri, bahwa al-Quran adalah sumber hukum Islam, baik dalam aqidah, ibadah maupun akhlak. Mengenai akhlak, secara implicit dan eksplisit al-Quran telah menyebutkan beberapa kali mengenai perbuatan baik dan buruk uang merupakan objek kajian akahlak. Sedangkan dasar pendidikan akhlak.
Allah Swt berfirman:
“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu..”. (Q.S. Al-Ahzab:21)
      Ayat tersebut menunjukan, bahwa Rasulallah Saw sebagai suri teladan yang baik dalam segala lapangan kehidupan termasuk pendidikan akhlak. Oleh karena itu perkataan dan perbuatan Beliau harus dijadiakn panutan. Dan Allah Swt telah memuji Beliau dalam firman-Nya
“Dan Sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung”. (Q.S. Al-Qalam: 4)
      Dalam konteks ini, manusia telah diberi Allah Swt potensi yang baik dan potensi yang buruk . potensi-potensi ini perlu mendapatkan bimbingan menuju  ke arah yang mulia. Disinilah pentingnya pendidikan akhlak.   
C. Tujuan Akhlak
Dalam segala usaha yang dilakukan secara sadar oleh manusia, pasti tidak lepas dari tujuan. Demikan pula dengan halnya akhlak.
Dan tujuan akhlak menurut al-Ghazali adalah diarahkan pada pembentukan kebagusan akhlak.dan kebagusan akhlak menurut al-Ghazali adalah iman. Dan keburukan akhlak itu adalah nifaq (sifat oaring munafiq).[3] Pendapat al-ghazali tesebut, ia sandarkan pada firman Allah Swt dalam surat al-Mukminun ayat 1-10.
Artinya:
1.  Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman,
2.  (yaitu) orang-orang yang khusyu' dalam sembahyangnya,
3. Dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna,
4. Dan orang-orang yang menunaikan zakat,
5. Dan orang-orang yang menjaga kemaluannya,
6. Kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak yang mereka miliki[4]. Maka Sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada terceIa.
7. Barangsiapa mencari yang di balik itu, Maka mereka Itulah orang-orang yang melampaui batas.
8.   Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat (yang dipikulnya) dan janjinya.
9.   Dan orang-orang yang memelihara sembahyangnya.
10. Mereka Itulah orang-orang yang akan mewarisi. (Q.S. Al-mukminun: 1-10)
           
            Disamping itu, dikatakan pula bahwa diantara tujuan daripada pendidikan akhlak dapat dilihat pada hasil usaha perbaikan akhlak yaitu untuk membarsihkan qalbu dari kotoran-kotoran hawa nafsu dan amarah, sehimgga hati menjadisuci bersih, bagaikan cermin yang dapat menerima nur cahaya Tuhan.[5]
            Berdasarkan keterangan-keterangan al-Ghazali diatas, tujuan pendidikan akhlak dapat dapat dibagi menjadi dua, yaitu:

1.      Tujuan Tertinggi
Tujuan tertinggi adalah kembali pada kedudukan manusia di dunia sebagai hamba Allah, yaitu agar taat (beriman0 kepada Allah.
Allah berfirman:
 “Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku” (Q.S Adz-Dzariat: 56)

2.   Tujuan Perantara
Maksudnya adalah tujuan yang dicapai untuk tujuan yang lebih tinggi. Dalam hal ini berupa kebiasaan yang baik dan menjauhkan dar perbuatan yang tercela. Sehingga dapat mencapai derajat muttaqin. Seperti disebutkan dalm surat al-Mukminun 1-10 tentang tanda-tanda orang yang beriman, diantaranya adalah orang yang khusyu’ shalatnya, membayar zakat, dan sebagainya. Hal ini sesuaidenagn pendapat Barmawie Umary yang mengatakan tujuan dari pendidikan akhlak adalah “ supaya dapat terbiasa melakukan yang baik, indah, terpuji, serta menghindari yang buruk, jelek, hina, tercela.[6]



[1] Al-Ghazali, Ihya Ulumuddin, (Mesir: Dar Ihya al-Kutub al-Arab, juz. III, t.th), hlm. 52.
[2] Zainuddin dkk, Seluk Beluk Pendidikan dari Al-Ghazali (Jakarta: Bumi Aksara, 1991), hlm. 102.
[3] Al-Ghazali, Ihya Al-Ghazli, terj. Ismail Yakub (Jakarta: C.V Faizin, Jilid. III, 1986), hlm. 183.
[4] Maksudnya: budak-budak belian yang didapat dalam peperangan dengan orang kafir, bukan budak belian yang didapat di luar peperangan. dalam peperangan dengan orang-orang kafir itu, wanita-wanita yang ditawan biasanya dibagi-bagikan kepada kaum muslimin yang ikut dalam peperangan itu, dan kebiasan ini bukanlah suatu yang diwajibkan. imam boleh melarang kebiasaan ini. Maksudnya: budak-budak yang dimiliki yang suaminya tidak ikut tertawan bersama-samanya.
[5] Dr. Mustafa Zahri, Kunci Memahami Ilmu Tasawuf (dikutip dari al-Ghazali, Kimiyaus Sa’adah), (Surabaya: Bina Ilmu, 1994), hlm. 862.
[6] Drs. Barmawie Umary, Materia Akhlak (Solo: Ramadhani, 1993), hlm. 2.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar